07 Juli, 2011

Adik-adik yang Berasal Dari Memori Masa Lalu

Sabtu Minggu kemarin kami habiskan dengan cara yang beda dari biasanya. Berdua kami sama-sama menjadi volunteer, kakak pendamping buat adik-adik dari rumah-rumah singgah atau anak-anak binaan Sahabat Anak. Dua hari, main-main, makan bareng, bahkan tidur di tenda yang sama. Meresapi satu dua atau tiga pelajaran yang setiap saat bermunculan sendiri dari mereka. Tentang kerasnya hidup yang tercermin dari kata-kata kasar mereka, tentang uang seribu rupiah yang di sayang-sayang sampai sibuk mencariku (kakak pendampingnya) untuk menitipkan saat dia mau mandi di bilik mandi, tentang adik bimbingan di tenda Damar yang matanya menyimpan api, atau kasih sayang kakak beradik yang diungkapkan dengan cara di luar dugaan.

Kami berdua beda tenda, beda tim pendamping, jadi selama dua hari hanya beberapa kali simpangan jalan. Kadang ketemu di salah satu pos games, kadang aku yang panggil-panggil kalau lewat tendanya saat mau ke kamar mandi, atau kebetulan berdiri sebelahan di depan panggung hiburan. Rupanya kami berdua menikmati keadaan saat tidak benar-benar sedang berdekatan tapi merasa ada. Aku tau, saat aku mengajari adik-adik di tendaku untuk membuat origami, dia juga sedang bersama-sama adiknya sibuk menghias tenda. Di event-event non-personal, kami seperti langsung switch jadi 'cuma temen' aja. Sama seperti aku dan teman-teman lain, dan dia dengan teman-temannya.

Tendaku menang funtastic games. Tenda Damar menang Senam Pagi Terbaik. Lucu ya, teriak-teriak bareng teman setenda nyanyi lagu-lagu yang sehari-hari tidak aku nikmati. Di dua hari itu, semua lagu, jadi terdengar merdu. Emang salah mereka kalau nggak bisa ke Aksara buat update CD terbaru dari band-band indie? Bukan salah mereka juga yang tidak bisa mengakses internet sebebas anak-anak seumuran mereka yang lebih beruntung lainnya, hingga tidak hanya referensi musik yang terbatas, tapi juga refensi bacaan, film, berita, dan segala macamnya.

Bertemu, kenalan, dan melihat orang-orang hebat yang mendirikan rumah singgah, yang menyekolahkan banyak sekali anak-anak marjinal. Melihat cara mereka mencintai adik-adik binaan. Dan di akhir acara, saat ramah-tamah seluruh volunteer, berbicara di depan kami semua, dua dari banyak orang hebat itu, satu orang tuna netra yang memiliki yayasan bagi anak-anak tuna netra, dan satu lagi, wanita tangguh yang memperjuangkan kehidupan banyak anak di cilincing dalam. 

Pulang dari sana, kami berdua berpelukan. Dia orang yang senang hati mengikuti ajakanku ikut acara ini. Dan menyukainya sama besar sepertiku. Kami berdua sama-sama merasakan, adik-adik bimbingan kami seperti berasal dari memori masa lalu. Waktu dua hari yang terasa begitu lama. Begitu dekat untuk menjadi berkaca-kaca saat adik-adik mencium tangan untuk berpamitan di Minggu sore. Kegiatan ini, yang kami janjikan akan sering dilakukan, memukul hati kami keras-keras. Pukulan sakit yang berhak kami dapatkan.


P.S:
Maap ya pamp, foto-fotonya cuma dari tendaku aja. Kan aku yang capek-capek nulis... hihihi.

3 komentar:

  1. Semakin kagum sama kalian berdua :)

    *g ada pilihan masukin link wen, cha :P

    BalasHapus
  2. link web :P
    salah ketiiiik. Hahahaha

    BalasHapus