21 September, 2011

Tentang Foto Pre-wedding

Pengen upload foto-foto pre-wed dan cerita (lagi) tentang proses kreatifnya, gara-gara seorang temen (gak terlalu dekat) yang memulai usaha sebagai fotografer pre-wed, nanya tentang lokasi toko-toko ber-rolling door di foto-foto kami. Kebetulan, versi unedited nya udah aku upload di facebook. Tepat setelah dia nanya, aku bbm Damar, bilang kalau seseorang tertarik sama konsep foto pre-wed kita, dan dia fotografer, aku curiga nih dia bakal modifikasi konsep kita ini. Damar bilang mending dikasih ide baru aja daripada make ide kita. Beberapa menit berikutnya, si teman chatting lagi, dan tampak kurang excited setelah mendengar bahwa lokasi toko-toko itu tersebar di seantero Jakarta Pusat. Damar dikasih tau, cuma ketawa...

Konsep foto pre-wed kami memang tidak extravaganza, gak bilang kalau foto prewed yang mahal itu jelek ya, justru kalau misalnya kami punya banyak budget, mungkin konsep nya bisa foto di depannya toko-toko di Eropa. Pasti lebih keren! Tapi karena budgetnya cuma cukup di Jakarta, dan buat kami yang penting dari suatu artwork adalah: konsep dan 'feel' yang kuat, begitulah jadinya. Yang dari jauh-jauh hari yang terpikir itu harus difotoin sama temen deket (yang bisa diatur-atur, ehem). Konsep datang dan pergi, sampai suatu hari aku dan Damar lagi beli sesuatu di Kramat Sentiong, ngeliat toko yang tutup, rolling door nya warna orange terang, aku langsung bilang: "Pump, nanti aku mau konsep foto pre-wed kita foto-foto di depan rolling door!".

Begitulah, fotografer ditetapkan dengan mutlak, propertinya yang beli cuma something ditiup-tiup buat pesta anak kecil itu apa ya namanya, harganya 5 ribu beli di carrefour, sisanya adalah barang-barang yang ada di kamar kami masing-masing. Eh, ada lagi ding yang beli, capuccino sama hot chocolate di 7 11, itupun emang karena pengen diminum beneran, hihi. Dress yang aku pakai adalah dress vintage favorit, kemeja dan jeans Damar juga baju yang dia suka banget. Novel, kamera lomo, iPod, kacamata, masker, syal Indonesia,  lipstik merah, SEMUA nya adalah benda-benda milik kami berdua.

Tampak effortless ya?
Beberapa orang mungkin mikirnya, ah gitu doang, tinggal bawa diri, dateng ke deretan toko yang lagi tutup, trus foto deh dari ujung ke ujung. Tapi percayalah, tidak ada sederetan toko di Jakarta Pusat ini yang tutup bersamaan dan memiliki rolling door dengan warna merah-kuning-hijau muda-hijau tua-orange-hitam-abuabu-putih-coklat dalam satu kompleks, darling... Belum lagi kalau toko yang warnanya pas, tidak terletak di cikini atau jalan sabang, tapi di deretan toko dengan suasana agak bronx di daerah Pasar Baru-Gajah Mada. Hanya saja memang eksekusi itu menjadi fokus karena dari awal kami punya konsep yang jelas.

Tentang konsep foto di depan rolling door ini sebenernya bukan sesuatu yang baru, banyak fotografer luar yang pake konsep ini, hanya saja biasanya foto-fotonya nggak murni di depan rolling door aja, tapi temanya  adalah jalanan, nah salah satu fotonya ada di depan rolling door. Aku sendiri terinspirasi dari salah satu poster film Blue Valentine (ini sadarnya juga setelah foto kami jadi), pas dua tokoh utamanya berdiri di depan rolling door biru sambil pegang kamera polaroid. Bedanya terinspirasi dan NYONTEK adalah, inspirasi itu semacam stimulus, rangsangan dari luar yang bikin otak kita mikir, memproses, lalu menghasilkan sesuatu yang ada unsur 'ide utama' nya tapi jadi sesuatu yang beda. Kita banget. Bukan mereka banget.

Pre-wed foto itu menurut kami adalah foto-foto personal yang harus mengingatkan akan sesuatu, perjalanan dua orang yang akan menikah. Jadi bakalan lebih indah diingatnya, kalau kita sendiri yang mau seperti apa foto-foto itu. Gak apa-apa kalau nurutin saran fotografernya sih, tapi sebaiknya, konsep kasarnya justru dari kita, baru si fotografer dan tim nya yang bikin konsep itu jadi bisa dieksekusi. Kalau budgetnya ada, justru lebih bagus lagi eksekusinya. Tapi kalau nggak ada budget, bukan berarti jadi asal-asalan bikin foto pre-wed yang sama kayak foto pada umumnya. Buat gambaran, foto pre-wed kami ini di eksekusinya dengan biaya cuma bayarin Cinda sarapan sama makan siang aja. Abis itu biaya cetak sama figura. Udah.Yang mahal sih ide nya..... (sombonggg, hahahaha)

2 komentar: