13 Januari, 2012

Wouldn't it be nice...

Seminggu ini Damar pulang malem terus...
Yeah, tiap hari juga pulangnya jam 9 malem ya karena biasanya kuliah. Masih sempet deh ngobrol-ngobrol sejam dua jam di kamar sambil nunggu ngantuk. Tapi sejak Selasa sampai Kamis ini pulangnya jam 12-an malem, aku udah tidur, biasanya cuma kebangun bentar karena dicium-cium, abis itu wasalam. Pagi bangun, buru-buru mandi, dandan sambil ngobrol dikit, trus udah. 

Rasanya jadi kangen...

Eh trus bulan depan ada Feist manggung di Jakarta, gosip-gosip yang beredar tiketnya 500ribu-an, ih, tampak mahal banget yaaa.... Pingin banget nonton, tapi belum ada budgetnya. Liat-liat kondisi, kalau semuanya lancar insyaAllah minggu depan mau akad kredit KPR, pinjaman besar-besaran selama 15 tahun soalnya. Yakinlah itu tabungan akan segera di-debet dalam jumlah yang mengerikan buat bayar DP! 

Segala persiapan beli rumah ini buat aku dan Damar rasanya lebih deg-degan daripada lamaran, bahkan buatku lebih galau daripada persiapan nikahan. Juga bikin merasa lebih grown-up daripada pas mau nikah. Don't get me wrong, aku menganggap keputusan menikah itu salah satu keputusan 'orang dewasa'. Tapi dalam perjalanannya, beli rumah ini justru hal paling 'orang dewasa' yang pernah aku lakukan, so far...

Lucu kalau membayangkan, akan banyak sekali keputusan-keputusan yang selama ini belum pernah aku bayangkan akan terjadi sama aku dan Damar, dan kami akan mengambil pilihan-pilihan hidup yang saling mempengaruhi. Well, thank God it's with him. 


Happy times together we've been spending
I wish that every kiss is never ending
wouldn't it be nice....

(Wouldn't it be nice - Beach Boys cover by She and Him)

*Lagu ini, versi aslinya, adalah lagu yang sering kami berdua dengarkan setelah dia ngajakin nikah. Tepatnya, melamar dengan ajakan bayar cicilan rumah, bayar listrik dan PAM berdua. Haha. Seneng inget memori yang tersisa tiap denger lagi :)

0 komentar:

Poskan Komentar